Sabtu, 21 November 2015

Untukku, Yang Seperti Apa?

Barusan saja rebah di kasur paling empuk sedunia (kasur sendiri memang yang paling enak *tears*)

Seharian tadi adaaa saja yang dikerjakan.
Dari bantu-bantu Silver Agent, ngeprint ini-itu yang ajaibnya bisa terselesaikan hari ini padahal waktu udah mepet semepet-mepetnya, bolak-balik Unlam Kayu Tangi ke pal 6 beberapa kali; yang lucunya sempat ketiduran paling engga 1 jam lebih di rumah, padahal panitia disuruh kumpul jam 2 siang buat briefing (aww, maafkan aku yang kecolongan teman-temaaan)
Tapi Allah Memang Maha Baik, Dia kasih kekuatan dan senyum yang semoga masih bisa jadi benteng bukan hanya untuk hari ini, tapi hari-hari ke depan yang menuntut dibikin lebih superb daripada hari sebelumnya :)

Sebenarnya, fokus nulis kali ini bukan buat cerita itu sih, hehe. Since kayanya blog ini hanya aku yang baca hha, bolehlah sekali-sekali cerita yang agak private, setidaknya malam ini masih dalam current mood untuk berbagi.

Tentang sesuatu yang menjadi rahasia terbesar untukku, mungkin masih dan tetap akan seperti itu hingga beberapa tahun ke depan.
Sesuatu yang padahal jarang sekali mengganggu. Sekali dua kali okelah masih ada kepikiran, tapi itu pun karena tidak sengaja mendengar percakapan sahabat-sahabat yang sering banget baperan *hehe, peace vermicularis, aku cinta kalian hingga noktah-noktah terjelek kok, hihi*
Atau kalau engga karena ngeliat postingan orang di facebook ataupun medsos lain, tentang betapa bahagianya mereka yang telah menemukan.......

Bagian puzzle yang akhirnya melengkapi separuh agama mereka *backsound lagu sedih*

Serius, aku bukanlah tipe perempuan yang senang untuk memikirkan bahwa sekarang umurku sudah 20 tahun, dan itu artinya dalam waktu 4 hingga 5 tahun ke depan hidupku ga bakal lagi diperjuangkan sendirian.
Menuliskan disini saja sudah bikin palpitasi, betapa masih belum maksimalnya aku untuk mempersiapkan semuanya.
Padahal menjadi istri dan ibu yang tiada duanya adalah salah satu cita-cita terbesarku hingga sekarang.
Mem-push diri untuk membuat keluarga yang bisa jadi penyejuk ummat di era berikutnya juga masih menjadi goal tertinggi dalam proposal hidupku.

Tapi, ya itu..

Aku masih senang untuk membuat resolusi individu yang sumpah muluk-muluk, masih terbiasa jalan sendiri tanpa ditemani siapapun hanya untuk makan es campur di Tarakan, masih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam di gramedia ketimbang ngumpul sama teman atau keluarga di hari libur, masih sukaaa sekali jalan-jalan keliling Banjarmasin naik motor all by myself a.k.a lagi-lagi sendirian hanya untuk menikmati even polusi udaranya, dan masih banyak "masih senang-masih terbiasa" lainnya yang bertemakan "hanya aku dan diriku".
Belum bisa membiasakan "jalan berdua saja" menjadi kecemasanku, setidaknya untuk beberapa waktu yang lalu.

Entah mengapa, pola seperti ini akhirnya terpatahkan oleh pengamatanku sendiri, bahwa sekuat dan semandiri apapun perempuan, pasti ada suatu masa ia merasa lelah dengan memperjuangkan apapun hanya sendirian.
Akan tiba suatu masa dimana ia akan mulai mencari tempat untuk berbagi, bahkan tentang hal remeh-temeh seperti dokter favoritnya yang menerima permintaan pertemanannya di media sosial.
Bahkan sekarang pun ketika ia melewati etalase pakaian pria di mall, ia sudah mulai memikirkan selera apa yang dimiliki oleh calon suaminya di masa depan.
Ketika ia membaca buku-buku tebal favoritnya, ia bertanya-tanya apakah calon suaminya juga memiliki hobi yang serupa untuk kemudian suatu hari dapat membuat perpustakaan super lengkap di rumah mereka kelak.
Ia pun khawatir bila calon suaminya senang mengabadikan kenangan manis lewat foto, karena ia tidak terlalu suka menjadi objek kamera.
Kecemasannya bertambah ketika ia sadar tak terlalu ekspresif mengutarakan kata, berandai-andai apakah calon suaminya mau memaklumi dan melengkapi harinya yang lebih sering datar.
Berinteraksi dengan anak-anak kecil sholih-sholihah pun sekarang menjadi kesukaannya, berharap keturunannya nanti dapat sebaik mereka.
Hal-hal yang tidak penting untuk dibagikan kepada keluarga ataupun sahabat dekat, tetapi ia masih merasa perlu untuk bercerita dan menumpahkan semuanya pada seseorang.
Seseorang yang ia berharap dapat menjadi oase paling pertama dan terakhirnya untuk kemudian bersama-sama menuju surgaNya Allah....

Memang benar adanya, bahwa semakin dewasa kita semua dalam berpikir dan karena tuntutan pertambahan usia, seegois dan seindividualis apapun seseorang, pastilah ia secara alamiah akan mencari seseorang yang tepat untuk dijadikan partner hidupnya.
Aku,
Kamu,
Kita semua begitu.

Namun pertanyaan berikutnya, untukku yang seperti apa?

-Dalam diam dan ketaatan aku berharap yang terbaik untukmu, wahai yang hingga kini namamu pun aku tak tahu-

Senin, 09 November 2015

Himpitan Malam

Mengalah lagi, selalu tidak tega berkata tidak bahkan untuk super-duper-mega kepentingan mereka pribadi.

Berulang kali memahami, "Dia jadikan bagimu mudah, belum tentu Dia jadikan serupa untuk orang lain."

Namun haruskah tiap penyelesaian persoalan ditimpakan kepada mereka yang dianggap paham?
Padahal Dia anugerahkan kepada kita nikmat akal dan kemampuan berpikir yang sama, asal mau berusaha untuk mencari letak kegigihan itu.

Berbahagialah, bila masih ada sedikit kesabaran dan sejumput kata maaf di ujung jurang sabarmu.

Berbaiksangkalah, tandanya Dia gerakkan hati mereka untuk meminta bantuan kepadamu, atas izin dari Dzat yang sungguh tiada kata batas dan sulit untukNya.

Selasa, 03 November 2015

Bahagia Yang Diindahkan

Jika tak ada janji sebelum petang itu
Mungkin akan lain ceritanya

Lebih manusiawi bila kau yang diperjuangkan
Bukan seseorang, yang padahal sudah berusaha
Mengambil langkah
Dan mundur teratur

Mengguyur habis semua tanam
Ternyata tuai tetap kembali
Walau terlalu lambat

Sekarang dapatkah ia kembali menata balok-balok rasa?
Yang hancur kembali oleh satu godam pinta

Ia sudah berusaha, aku jamin itu
Demi kau, yang duniamu lebih berarti dibandingkan
Pengakuan yang padahal ia damba-dambakan sejak sumurnya yang lain mengering

Dia pun sekarang masih memilih bisu
Menutup semua kemungkinan pintu yang dapat terbuka
Aku jamin itu

Sabtu, 10 Oktober 2015

Hitam Setengah Lingkaran

Masih terbangun
Bertemankan gemuruh pendingin ruangan
Dan sunyi di luar teralis itu

Hingga terdengar
Degupan kencang perjuangan
Bisik tirani menghela riuh
"Pendaki puncak tak usah tidur!"

Banjarmasin, 03.52 WITA
H-4 Indonesian Medical Olympiad (IMO) 2015

Minggu, 27 September 2015

Yang Terselubung Itu, Nyata

Baru kali ini benar-benar tersentak oleh yang namanya diversitas
Padahal selama ini kami baik-baik saja
Biarpun ada masalah dapat terselesaikan secepat mata mengedip satu-dua kali

Tapi yang ini lain
"Mengambil kesempatan dalam kesempitan" memberi kedap di antara kami
Hingga bersuara saja takut
Menuliskan kalimat pun perlu beberapa kali menekan tombol hapus
Ada mereka, yang menyelubung dan menjadi nyata

Memberi lubang besar tempat kekhawatiran
Namun sisi lain lubang itu buntu
Seperti meminta kami untuk terduduk pasrah
Namun malas mencari jalan keluar

Pejuang-pejuang mulai meletakkan tameng mereka
Tanda istirahatkah atau menyerahkah?
Yang jelas takut, khawatir, dan cemas masih menggaung runyam
Menggerogoti nurani hingga habis harap kami

Mereka selamanya tetap bagian dariku
Namun yang terselubung, sudah mengikis habis rangkul hangat ini

Jumat, 25 September 2015

Tentang Malam Tadi

Setelah malam tadi
Baru benar-benar terpikir
Percakapan panjang dengan dua orang teman
Memang punya andil untuk kemudian mengubah haluan

Padahal sudah usaha memantapkan hati
Menunggu
Menunggu
Menunggu
Telah jadi mindset, tapi kuakui bingung masih menggantung
Apalagi setelah muncul fakta di malam tadi
Oleh dua orang teman yang menertawakan namun aku tau mereka peduli

"Lah jangan terlalu pemilih, yang satu sudah ready, kok!"
"Dia ready tapi saya closed PO, Kak!"
Dia tertawa lagi
"Nanti menyesal, bilang kenapa dulu kok aku tolak ya? Bilang ada yang jauh lebih baik daripada aku, padahal ntar ujung-ujungnya ya gigit jari juga!"
Satu teman lagi menimpali,
"Sudahlah. Yang satu lagi kan masih abu-abu. Yang satunya sudah hitam, berhenti di kamu."
"Padahal kamu beruntung sekali, dia yang punya standar tinggi lebih memilih untuk berharap dan menunggu!"

Berpikir lagi
Dengan semua tanda, mereka menyadari
Tapi aku yang punya diri, malah sebaliknya
Terlalu fokus kepada yang abu-abu
Lantas mengindahkan yang hitam, ditambah dengan tegas bilang tidak untuk membuka hati

Semua ini masih dengan judul yang sama
Tentang malam tadi
Tentang dua teman yang berhasil mengobrak-abrik hati
Tentang ketidaksiapan untuk membuang abu-abu
Tentang kemantapan untuk tetap berkata tidak pada hitam
Tentang aku yang berusaha taat dan berproses
Dalam memperbaiki diri
Hingga entah kapan

Mungkin hingga abu-abu sudah siap menjadi hitam?

Rabu, 05 Agustus 2015

Seperti Kamu

Banyak orang hebat di luar sana.

Prestasinya melimpah bak hujan lebat di bulan November. Pun ketika ia berbicara, mustahil bila tanpa passion dan cinta pada profesinya. Bahkan setiap kata yang keluar adalah magis, menarik untuk didengar dan diceritakan kembali.

Banyak orang hebat di luar sana.

Yang menambah hebatnya bukan keangkuhan, justeru kesederhanaan dan keramahannya dalam bertutur juga berlaku. Penghargaannya atas orang lain mendecak kagum, selalu sungkan untuk meminta lebih dan dengan senyum rela berbagi. 

Adakah yang pernah bertemu dengan orang seperti ini?
Beruntung sekali jika pernah mengenal, apalagi ternyata dia adalah orang terdekat kita.

Karena mereka yang menginspirasi selalu temukan cara untuk menambah semangat diri.
Bukankah menyenangkan berteman dengan orang seperti ini?

Minggu, 02 Agustus 2015

Bagaimana bila....

Menyedihkan bila hanya dapat terpaku pada satu pilihan

Sekaligus menyebalkan jika ternyata pilihan kedua
Ketiga
Keempat
Bahkan seterusnya tak pernah ada

Atau secara sarkastik menolakmu untuk memilih mereka
Yang sesungguhnya hanya benda terabaikan, dan mati

Namun,
bagaimana bila.....
Dari awal memang kamu yang payah dalam memilih?

-7.11.4

Kamis, 23 Juli 2015

Menyerah Untuk Naruto

"Ayo nah tem, dicobai dulu nonton. Rami banar pasti ketagihan."
"Kam hakunkah aku tukarkan komiknya? Mencobai satu seri aja dulu, kedusah nukar bebanyak."

Satu-dua kali bujukan
Aku kasih senyum aja

"Conan tu kededa apa-apanya lawan Naruto. Kalah mantap tu pang. Anak muda macam apa yang kada ketuju lawan Naruto."

Mulai melancarkan sabotase ke kartun favoritku
Aku ketawa kecil

Pernah nonton Naruto massal bareng anak HIMA di kamar perawat, pada saat break kegiatan Bulan Bakti di RS Balangan.
Adegannya kelihatan seru, most of them gasping and grunting, beberapa ada yang bisik-bisik sambil tegang, sisanya mencoba menghayati tapi tetap gagal paham (yang aku yakin cuma aku seorang).

Akhirnya,
Mencoba nonton sekali, sendirian
*Belum habis satu seri, baru belasan menit, bored, ganti channel tv*
Mencoba nonton untuk yang kedua kali, which is exactly right here right now at this moment, haha, still don't get the "click phase"
*Melambaikan bendera putih*

I feel so happy I'm stuck on you forever, my Conan

Rabu, 22 Juli 2015

A temporary goodbye

Kamu sedang sibuk berjuang
Melatih kepakan prestasi hingga lampaui lelah itu

Pun aku

Sampai bertemu lain kali, sahabat
Setahun sekali saja cukup bagiku
Untuk melihat lagi senyummu

Yakinku menaut di yakinmu
Selalu

Senin, 20 Juli 2015

Dari J sampai H

Postingan ini sudah pernah aku publikasikan di laman facebook beberapa bulan yang lalu.
Tapi merasa perlu saja diposting ulang, sebagai reminder, godam pengingat yang semoga ampuh mengembalikan tatanan hati pagi ini.

Ada apa dengan pagi ini?

Ah, soalan biasa
Terdiri dari 5 huruf, 2 vokal 3 konsonan
Tapi efeknya, beuh
Akhwat single paling tangguh pun bisa rontok pertahanannya kalau ditanya tentang ini Komplikasinya jangan ditanya
Sewot berkepanjangan tak kenal orang
Gagal anggun seketika

Bila bertanya kepadaku dari J sampai H
Pasti lebih banyak melihat senyum
Daripada mendengar kata 
Sebab aku hanya ingin taat 
Tanpa banyak tanya 
Tanpa halus praduga

♡♡♡♡♡♡♡♡♡

"Ga takut apa, pernah ga sih questioning that kind of restriction, dengan interaksi yang terbatas seperti itu emang bakalan dapet yang sesuai dengan inginmu?"
"Ah, zaman sekarang mah ga banget kalau interaksinya model begitu. Se-menarik apapun kamu tapi kalau you look weird bagi mereka, yang ada bukannya pada seneng tapi malah pada kabur!"
"It sounds creepy, tau! Kalau aku sih mau ditunggu sampai kapanpun ga bakalan siap kayaknya dengan "sistem" seperti itu. Aku juga punya hak dong buat milah-milih.."

Yang paham benar akan perintahNya dijamin hanya akan senyam-senyum bila mendengar atau sekedar melihat komen macam di atas.
Sepertinya para shalih-shalilah di luar sana sudah tak asing dengan pengkultusan paradigma macam itu, bahwa yang memiliki barrier tinggi dalam berinteraksi tidak akan mendapatkan apa yang mereka idam-idamkan.

Ga akan dapat kesempatan untuk memilih (wrong!), punya masa muda yang penuh dengan limitasi (wrong, wrong!), atau terpaksa taat karena hanya setengah paham akan aturanNya (apalagi ini, wrong besar, deh!)

Pengen ketawa aja rasanya kalau ada yg ngajak berdebat tentang itu, lah pendebatnya ternyata juga tidak terlalu paham. Cuman mendengar desas-desus lantas disebarluaskan. Bahwa Islam itu batasannya besar, merenggut hak-hak tiap umatnya, kita ga akan pernah dapat hak untuk memilih hati, dst dst.

Yes, indeed, kita semua punya andil untuk memilih jalan mana yang kita ambil. Mumpung masih umur begini-toh banyak option yang terbentang luas tepat di depan mata-lantas kemudian memilih untuk belum/tidak siap dengan aturan dari sononya, ya itu terserah kita si empunya diri sebenernya. Tapi yang paham, tentu karena sudah belajar dan bermodal percaya kepada tiap aturan yang dibuatNya, dijamin tidak akan comes up dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Mereka berbuat, karena mereka tahu
Mereka melakukan, karena mereka paham
Mereka bersabar pun, karena mereka percaya

Bahwa ada hal-hal besar di luar sana yang telah dipersiapkan dengan matang sempurna.
Se-detail apapun rencana manusia tak akan bisa mengalahkan grand design dari-Nya. Mungkin bila memilih sendiri, hasilnya tak akan sebaik bila Dia yang memilihkan. Mungkin jika berjuang sendiri, manusia yang serba terbatas ini tak akan kuat menopang keluh dan bebannya. Dia Maha Segala Tahu, dan yang tahu pasti akan lebih memilih untuk mengikuti aturan dari yang lebih tahu.

"Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik.." - QS AnNuur : 26

Jadi, jangan sedih dan jangan berkecil hati, apalagi sampai pasrah menggadaikan idealisme karena omongan-omongan semu yang menjerumuskan kepada jurang kesalahan. Karena taat adalah pilihan, maka bersabar lebih tepat dalam masa penantian.
Semoga istiqomah!

Minggu, 19 Juli 2015

SMS Tak Bermakna

Terkadang yang kita rasakan, luapan emosi seluber apapun
Cukup kita dan cermin di kamar yang pantas tahu

Tentang broadcast beberapa hari yang lalu
Seharusnya ini bukan menjadi sesuatu yang penting untuk dibahas
Apalagi dibesar-besarkan lantas mengundang prasangka lebay
"Gitu aja kok sedih."
"Kecewa juga pilah-pilih topik, dong."
"Sederhana aja sih, hapus semuanya, restart lagi kalau ga mau repot."

Seringkali heran dengan faktor eksternal yang remeh-temeh
Padahal dengan entengnya kita bisa memilih untuk tidak sedih
Tidak kecewa
Memalingkan muka supaya tidak tahu
Ataupun menutup telinga walaupun desibel teriak hati terlalu tinggi

Kenapa masih memilih untuk peduli akan sebuah broadcast?
Kata Cinta, "Kulari ke pantai kemudian menyanyiku, kulari ke hutan kemudian teriakku."
Usahlah tak perlu
Cukup indahkan eksternal itu
Sajak dari Cinta pun berubah picisan bila kau cukup kuat hindarkan pilu

Biarkan saja
Lempar ponselnya bila kesal masih mengait
Acuhkan saja
SMS tak bermakna akan selamanya tetap begitu
Berarti untukku, sarkasme untukmu

Selamanya tetap begitu

Cita-cita Si Adik

Nama : Arel
Usia : 10 tahun
Cita-cita : Pengacara kondang seperti Pak Hotman Paris Hutapea

Kemarin siang, bertepatan dengan hari ke-2 Ied Fitri, aku sekeluarga pergi ke rumah adik abah yang nomor 5. Ternyata keluarga beliau yang dari Jakarta juga pada datang. Walhasil semakin gempita lah itu rumah ; penuh anak-anak, banyak timbunan makanan, penuh anak-anak yang berlarian membawa timbunan makanan.
Sempurna.

Aku berdiri di pojokan saat itu, menyendok es batu untuk ditaruh ke dalam gelas. Suasana rumah masih riuh oleh pekikan para sepupu. Tiba-tiba ada anak kecil yang mendekat. Terus mencolek lengan kananku lantas bilang, "Apa kabar, Kak Tara?" Aku menoleh kaget ke arah samping kanan, si Arel rupanya!

Dia masih berdiri disitu nunggu aku ngomong sambil nyengir. "Arel!" Hanya sepatah kata, langsung aku cubit pipi tembemnya, gemas!
"Baik dong, Rel. Arel udah kelas berapa?" Pertanyaan retorik yang biasa ditanyakan ke anak-anak kecil. Haha. "Naik kelas 6, Kak. Nanti Arel cerita banyak ya!" Lantas lari-lari kecil menyusul sepupu lain yang pada main. Aku senyum, meneruskan menyendok es ke dalam gelas.

Aku selalu suka Arel. Cerdas, pandai bicara, dan tentunya gendut menggemaskan. Keluarganya berdomisili di Jakarta, dan karena itu kami jarang sekali bertemu. Terakhir kali kalau tidak salah saat liburan semester SMA, sekitar 3 tahun yang lalu. Keluarga Arel jadi tuan rumah saat itu, berbaik hati mengantarkan aku keliling Jakarta ditemani Arel yang sok-sokan jadi tour guide profesional, cadel dan belepotan menjelaskan ini-itu.
Aku senyum lagi, memang selalu menyenangkan berurusan dengan anak kecil yang cerdas.

Sore kemarin, Arel benar-benar bercerita tentang banyak hal. Sekolahnya, teman-temannya, guru-gurunya, bahkan ketidaksukaannya dengan kesemrawutan kota Jakarta. Aku diam saja mendengarkan, hanya sesekali menimpali dan lebih banyak tertawa lebar. Sepupuku yang lain akhirnya ikut mendekat, setelah sebelumnya tenggelam dengan gadgetnya masing-masing *khas orang-orang sekarang, no gadget=no life*

Lantas kemudian Arel berhenti bercerita, rupanya merasa sudah terlalu banyak bicara, haha. Tiba-tiba ada salah seorang sepupu yang nyeletuk, "Arel cita-citanya pengen jadi apa, Rel?"
Aku diam. Semua diam. Mengunci perhatian kami pada Arel yang sekarang sedang sibuk memainkan guling di atas kasur.
"Aku pengen jadi pengacara, Kak! Yang beken kayak Pak Hotman Paris Hutapea!" Arel menjawab dengan lantang, gulingnya ia tepuk dengan keras. Semua orang, termasuk aku, tertawa terbahak-bahak.

Sebelum itu, aku dan Naufal, salah satu adik sepupu yang juga kuliah di FK melakukan survei iseng ke tiap anak tentang cita-cita mereka di masa depan. Walhasil, hampir semua dari mereka pengen jadi dokter, bahkan sudah ada yang berani menargetkan menjadi seorang dokter spesialis anak. Hanya 1 orang yang berani tampil beda, pengen jadi polisi, katanya.

Dan sekarang, ada 1 anak lagi yang antimainstream dengan cita-citanya.
Arel, tentu saja.
"Kenapa Rel pengen jadi pengacara?" Aku bertanya setelah semua tawa kami mereda. Arel tertawa kecil lantas menjawab, "Arel kan suka ngomong, Kak. Terus asik aja ngeliat pengacara di TV, kelihatan hebat gitu. Apalagi Pak Hotman Paris, uangnya banyak, Kak! Kemarin aja si bapak itu ngebeliin Raffi Ahmad sama Nagita mobil Lamborghini."

Kami tertawa lagi. Lebih keras. Arel melanjutkan, "Terus aku juga pengen cepat lulus kuliah, Kak. Aku pengen kuliah di UI. Sekolahnya orang-orang pinter. Biar bisa ngebeliin rumah buat mamah papah, terus juga bisa berangkatin mereka haji."
Arel senyum, kami bungkam seketika. Anak kecil pemikirannya sudah sejauh itu, ringisku. Sepupuku yang lain pada tepuk tangan, mengaminkan keinginan Arel secepat kilat. Lantas semua diam. Kembali sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Kalimat sihir Arel hanya bertahan sekian menit rupanya.

Tiba-tiba, Arel pindah duduk ke sebelahku yang sedang bosan memindah-mindah channel televisi.
"Kak Tara, Arel punya pertanyaan paling sulit loh."
Aku tertarik. "Pertanyaan apa, Rel? Kalau kakak bisa jawab, ya." Aku cengengesan, rada takut juga ga bisa jawab pertanyaan anak kecil, tengsin bo!
Dengan wajah lugu ia meneruskan, "Menurut kakak, Arel yang gantengnya mirip Aliando atau Aliando yang gantengnya mirip Arel?"
Gubrak.

Sekali lagi, memang selalu menyenangkan berurusan dengan anak kecil yang cerdas :)

P.S : Semoga sukses dengan cita-citanya, Rel! Anak cerdas selalu punya tempat, kok!
Xoxo, 
Kak Tara

Postingan Pertama!

Sudah lama tidak menyentuh my babe (re : blog kebanggaan yang dulu dibikin pas pelajaran TIK kelas 8 SMP).
Bisa dibilang ini blog udah lumayan usang, lama nggak ditengok, boro-boro diperbaharui. Kemarin-kemarin i chose to write my notes and stories on facebook instead of using this lovable stuff. Maafkan aku, babe :(
Mulai sekarang udah nyoba buat aktifin my babe lagi, yeayyy! Kelihatannya facebook sudah terlalu lelah dengan semua postinganku yang terlalu mubazir kata *tbh jarang nulis sesuatu yang pendek, kecuali share ulang postingan orang, maafkan*, mungkin juga tidak sedikit readers disana yang mikir, "Ini orang nulisnya kepanjangan ga sih? Kenapa ga nulis di blog aja?"
And here i am now para facebookers, menjawab semua keluh kesah kalian. Nyoba-nyoba membuka lagi lapak lama yang semoga bisa manfaat untuk kalian baca di waktu senggang, utamanya jadi ladang curhat paling setia bagi yang nulis cerita, hoho.

Say hi and a big welcome to me, Bloggers!