Barusan saja rebah di kasur paling empuk sedunia (kasur sendiri memang yang paling enak *tears*)
Seharian tadi adaaa saja yang dikerjakan.
Dari bantu-bantu Silver Agent, ngeprint ini-itu yang ajaibnya bisa terselesaikan hari ini padahal waktu udah mepet semepet-mepetnya, bolak-balik Unlam Kayu Tangi ke pal 6 beberapa kali; yang lucunya sempat ketiduran paling engga 1 jam lebih di rumah, padahal panitia disuruh kumpul jam 2 siang buat briefing (aww, maafkan aku yang kecolongan teman-temaaan)
Tapi Allah Memang Maha Baik, Dia kasih kekuatan dan senyum yang semoga masih bisa jadi benteng bukan hanya untuk hari ini, tapi hari-hari ke depan yang menuntut dibikin lebih superb daripada hari sebelumnya :)
Sebenarnya, fokus nulis kali ini bukan buat cerita itu sih, hehe. Since kayanya blog ini hanya aku yang baca hha, bolehlah sekali-sekali cerita yang agak private, setidaknya malam ini masih dalam current mood untuk berbagi.
Tentang sesuatu yang menjadi rahasia terbesar untukku, mungkin masih dan tetap akan seperti itu hingga beberapa tahun ke depan.
Sesuatu yang padahal jarang sekali mengganggu. Sekali dua kali okelah masih ada kepikiran, tapi itu pun karena tidak sengaja mendengar percakapan sahabat-sahabat yang sering banget baperan *hehe, peace vermicularis, aku cinta kalian hingga noktah-noktah terjelek kok, hihi*
Atau kalau engga karena ngeliat postingan orang di facebook ataupun medsos lain, tentang betapa bahagianya mereka yang telah menemukan.......
Bagian puzzle yang akhirnya melengkapi separuh agama mereka *backsound lagu sedih*
Serius, aku bukanlah tipe perempuan yang senang untuk memikirkan bahwa sekarang umurku sudah 20 tahun, dan itu artinya dalam waktu 4 hingga 5 tahun ke depan hidupku ga bakal lagi diperjuangkan sendirian.
Menuliskan disini saja sudah bikin palpitasi, betapa masih belum maksimalnya aku untuk mempersiapkan semuanya.
Padahal menjadi istri dan ibu yang tiada duanya adalah salah satu cita-cita terbesarku hingga sekarang.
Mem-push diri untuk membuat keluarga yang bisa jadi penyejuk ummat di era berikutnya juga masih menjadi goal tertinggi dalam proposal hidupku.
Tapi, ya itu..
Aku masih senang untuk membuat resolusi individu yang sumpah muluk-muluk, masih terbiasa jalan sendiri tanpa ditemani siapapun hanya untuk makan es campur di Tarakan, masih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam di gramedia ketimbang ngumpul sama teman atau keluarga di hari libur, masih sukaaa sekali jalan-jalan keliling Banjarmasin naik motor all by myself a.k.a lagi-lagi sendirian hanya untuk menikmati even polusi udaranya, dan masih banyak "masih senang-masih terbiasa" lainnya yang bertemakan "hanya aku dan diriku".
Belum bisa membiasakan "jalan berdua saja" menjadi kecemasanku, setidaknya untuk beberapa waktu yang lalu.
Entah mengapa, pola seperti ini akhirnya terpatahkan oleh pengamatanku sendiri, bahwa sekuat dan semandiri apapun perempuan, pasti ada suatu masa ia merasa lelah dengan memperjuangkan apapun hanya sendirian.
Akan tiba suatu masa dimana ia akan mulai mencari tempat untuk berbagi, bahkan tentang hal remeh-temeh seperti dokter favoritnya yang menerima permintaan pertemanannya di media sosial.
Bahkan sekarang pun ketika ia melewati etalase pakaian pria di mall, ia sudah mulai memikirkan selera apa yang dimiliki oleh calon suaminya di masa depan.
Ketika ia membaca buku-buku tebal favoritnya, ia bertanya-tanya apakah calon suaminya juga memiliki hobi yang serupa untuk kemudian suatu hari dapat membuat perpustakaan super lengkap di rumah mereka kelak.
Ia pun khawatir bila calon suaminya senang mengabadikan kenangan manis lewat foto, karena ia tidak terlalu suka menjadi objek kamera.
Kecemasannya bertambah ketika ia sadar tak terlalu ekspresif mengutarakan kata, berandai-andai apakah calon suaminya mau memaklumi dan melengkapi harinya yang lebih sering datar.
Berinteraksi dengan anak-anak kecil sholih-sholihah pun sekarang menjadi kesukaannya, berharap keturunannya nanti dapat sebaik mereka.
Hal-hal yang tidak penting untuk dibagikan kepada keluarga ataupun sahabat dekat, tetapi ia masih merasa perlu untuk bercerita dan menumpahkan semuanya pada seseorang.
Seseorang yang ia berharap dapat menjadi oase paling pertama dan terakhirnya untuk kemudian bersama-sama menuju surgaNya Allah....
Memang benar adanya, bahwa semakin dewasa kita semua dalam berpikir dan karena tuntutan pertambahan usia, seegois dan seindividualis apapun seseorang, pastilah ia secara alamiah akan mencari seseorang yang tepat untuk dijadikan partner hidupnya.
Aku,
Kamu,
Kita semua begitu.
Namun pertanyaan berikutnya, untukku yang seperti apa?
-Dalam diam dan ketaatan aku berharap yang terbaik untukmu, wahai yang hingga kini namamu pun aku tak tahu-
Seharian tadi adaaa saja yang dikerjakan.
Dari bantu-bantu Silver Agent, ngeprint ini-itu yang ajaibnya bisa terselesaikan hari ini padahal waktu udah mepet semepet-mepetnya, bolak-balik Unlam Kayu Tangi ke pal 6 beberapa kali; yang lucunya sempat ketiduran paling engga 1 jam lebih di rumah, padahal panitia disuruh kumpul jam 2 siang buat briefing (aww, maafkan aku yang kecolongan teman-temaaan)
Tapi Allah Memang Maha Baik, Dia kasih kekuatan dan senyum yang semoga masih bisa jadi benteng bukan hanya untuk hari ini, tapi hari-hari ke depan yang menuntut dibikin lebih superb daripada hari sebelumnya :)
Sebenarnya, fokus nulis kali ini bukan buat cerita itu sih, hehe. Since kayanya blog ini hanya aku yang baca hha, bolehlah sekali-sekali cerita yang agak private, setidaknya malam ini masih dalam current mood untuk berbagi.
Tentang sesuatu yang menjadi rahasia terbesar untukku, mungkin masih dan tetap akan seperti itu hingga beberapa tahun ke depan.
Sesuatu yang padahal jarang sekali mengganggu. Sekali dua kali okelah masih ada kepikiran, tapi itu pun karena tidak sengaja mendengar percakapan sahabat-sahabat yang sering banget baperan *hehe, peace vermicularis, aku cinta kalian hingga noktah-noktah terjelek kok, hihi*
Atau kalau engga karena ngeliat postingan orang di facebook ataupun medsos lain, tentang betapa bahagianya mereka yang telah menemukan.......
Bagian puzzle yang akhirnya melengkapi separuh agama mereka *backsound lagu sedih*
Serius, aku bukanlah tipe perempuan yang senang untuk memikirkan bahwa sekarang umurku sudah 20 tahun, dan itu artinya dalam waktu 4 hingga 5 tahun ke depan hidupku ga bakal lagi diperjuangkan sendirian.
Menuliskan disini saja sudah bikin palpitasi, betapa masih belum maksimalnya aku untuk mempersiapkan semuanya.
Padahal menjadi istri dan ibu yang tiada duanya adalah salah satu cita-cita terbesarku hingga sekarang.
Mem-push diri untuk membuat keluarga yang bisa jadi penyejuk ummat di era berikutnya juga masih menjadi goal tertinggi dalam proposal hidupku.
Tapi, ya itu..
Aku masih senang untuk membuat resolusi individu yang sumpah muluk-muluk, masih terbiasa jalan sendiri tanpa ditemani siapapun hanya untuk makan es campur di Tarakan, masih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam di gramedia ketimbang ngumpul sama teman atau keluarga di hari libur, masih sukaaa sekali jalan-jalan keliling Banjarmasin naik motor all by myself a.k.a lagi-lagi sendirian hanya untuk menikmati even polusi udaranya, dan masih banyak "masih senang-masih terbiasa" lainnya yang bertemakan "hanya aku dan diriku".
Belum bisa membiasakan "jalan berdua saja" menjadi kecemasanku, setidaknya untuk beberapa waktu yang lalu.
Entah mengapa, pola seperti ini akhirnya terpatahkan oleh pengamatanku sendiri, bahwa sekuat dan semandiri apapun perempuan, pasti ada suatu masa ia merasa lelah dengan memperjuangkan apapun hanya sendirian.
Akan tiba suatu masa dimana ia akan mulai mencari tempat untuk berbagi, bahkan tentang hal remeh-temeh seperti dokter favoritnya yang menerima permintaan pertemanannya di media sosial.
Bahkan sekarang pun ketika ia melewati etalase pakaian pria di mall, ia sudah mulai memikirkan selera apa yang dimiliki oleh calon suaminya di masa depan.
Ketika ia membaca buku-buku tebal favoritnya, ia bertanya-tanya apakah calon suaminya juga memiliki hobi yang serupa untuk kemudian suatu hari dapat membuat perpustakaan super lengkap di rumah mereka kelak.
Ia pun khawatir bila calon suaminya senang mengabadikan kenangan manis lewat foto, karena ia tidak terlalu suka menjadi objek kamera.
Kecemasannya bertambah ketika ia sadar tak terlalu ekspresif mengutarakan kata, berandai-andai apakah calon suaminya mau memaklumi dan melengkapi harinya yang lebih sering datar.
Berinteraksi dengan anak-anak kecil sholih-sholihah pun sekarang menjadi kesukaannya, berharap keturunannya nanti dapat sebaik mereka.
Hal-hal yang tidak penting untuk dibagikan kepada keluarga ataupun sahabat dekat, tetapi ia masih merasa perlu untuk bercerita dan menumpahkan semuanya pada seseorang.
Seseorang yang ia berharap dapat menjadi oase paling pertama dan terakhirnya untuk kemudian bersama-sama menuju surgaNya Allah....
Memang benar adanya, bahwa semakin dewasa kita semua dalam berpikir dan karena tuntutan pertambahan usia, seegois dan seindividualis apapun seseorang, pastilah ia secara alamiah akan mencari seseorang yang tepat untuk dijadikan partner hidupnya.
Aku,
Kamu,
Kita semua begitu.
Namun pertanyaan berikutnya, untukku yang seperti apa?
-Dalam diam dan ketaatan aku berharap yang terbaik untukmu, wahai yang hingga kini namamu pun aku tak tahu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar