Setelah malam tadi
Baru benar-benar terpikir
Percakapan panjang dengan dua orang teman
Memang punya andil untuk kemudian mengubah haluan
Padahal sudah usaha memantapkan hati
Menunggu
Menunggu
Menunggu
Telah jadi mindset, tapi kuakui bingung masih menggantung
Apalagi setelah muncul fakta di malam tadi
Oleh dua orang teman yang menertawakan namun aku tau mereka peduli
"Lah jangan terlalu pemilih, yang satu sudah ready, kok!"
"Dia ready tapi saya closed PO, Kak!"
Dia tertawa lagi
"Nanti menyesal, bilang kenapa dulu kok aku tolak ya? Bilang ada yang jauh lebih baik daripada aku, padahal ntar ujung-ujungnya ya gigit jari juga!"
Satu teman lagi menimpali,
"Sudahlah. Yang satu lagi kan masih abu-abu. Yang satunya sudah hitam, berhenti di kamu."
"Padahal kamu beruntung sekali, dia yang punya standar tinggi lebih memilih untuk berharap dan menunggu!"
Berpikir lagi
Dengan semua tanda, mereka menyadari
Tapi aku yang punya diri, malah sebaliknya
Terlalu fokus kepada yang abu-abu
Lantas mengindahkan yang hitam, ditambah dengan tegas bilang tidak untuk membuka hati
Semua ini masih dengan judul yang sama
Tentang malam tadi
Tentang dua teman yang berhasil mengobrak-abrik hati
Tentang ketidaksiapan untuk membuang abu-abu
Tentang kemantapan untuk tetap berkata tidak pada hitam
Tentang aku yang berusaha taat dan berproses
Dalam memperbaiki diri
Hingga entah kapan
Mungkin hingga abu-abu sudah siap menjadi hitam?
Baru benar-benar terpikir
Percakapan panjang dengan dua orang teman
Memang punya andil untuk kemudian mengubah haluan
Padahal sudah usaha memantapkan hati
Menunggu
Menunggu
Menunggu
Telah jadi mindset, tapi kuakui bingung masih menggantung
Apalagi setelah muncul fakta di malam tadi
Oleh dua orang teman yang menertawakan namun aku tau mereka peduli
"Lah jangan terlalu pemilih, yang satu sudah ready, kok!"
"Dia ready tapi saya closed PO, Kak!"
Dia tertawa lagi
"Nanti menyesal, bilang kenapa dulu kok aku tolak ya? Bilang ada yang jauh lebih baik daripada aku, padahal ntar ujung-ujungnya ya gigit jari juga!"
Satu teman lagi menimpali,
"Sudahlah. Yang satu lagi kan masih abu-abu. Yang satunya sudah hitam, berhenti di kamu."
"Padahal kamu beruntung sekali, dia yang punya standar tinggi lebih memilih untuk berharap dan menunggu!"
Berpikir lagi
Dengan semua tanda, mereka menyadari
Tapi aku yang punya diri, malah sebaliknya
Terlalu fokus kepada yang abu-abu
Lantas mengindahkan yang hitam, ditambah dengan tegas bilang tidak untuk membuka hati
Semua ini masih dengan judul yang sama
Tentang malam tadi
Tentang dua teman yang berhasil mengobrak-abrik hati
Tentang ketidaksiapan untuk membuang abu-abu
Tentang kemantapan untuk tetap berkata tidak pada hitam
Tentang aku yang berusaha taat dan berproses
Dalam memperbaiki diri
Hingga entah kapan
Mungkin hingga abu-abu sudah siap menjadi hitam?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar