Minggu, 19 Juli 2015

SMS Tak Bermakna

Terkadang yang kita rasakan, luapan emosi seluber apapun
Cukup kita dan cermin di kamar yang pantas tahu

Tentang broadcast beberapa hari yang lalu
Seharusnya ini bukan menjadi sesuatu yang penting untuk dibahas
Apalagi dibesar-besarkan lantas mengundang prasangka lebay
"Gitu aja kok sedih."
"Kecewa juga pilah-pilih topik, dong."
"Sederhana aja sih, hapus semuanya, restart lagi kalau ga mau repot."

Seringkali heran dengan faktor eksternal yang remeh-temeh
Padahal dengan entengnya kita bisa memilih untuk tidak sedih
Tidak kecewa
Memalingkan muka supaya tidak tahu
Ataupun menutup telinga walaupun desibel teriak hati terlalu tinggi

Kenapa masih memilih untuk peduli akan sebuah broadcast?
Kata Cinta, "Kulari ke pantai kemudian menyanyiku, kulari ke hutan kemudian teriakku."
Usahlah tak perlu
Cukup indahkan eksternal itu
Sajak dari Cinta pun berubah picisan bila kau cukup kuat hindarkan pilu

Biarkan saja
Lempar ponselnya bila kesal masih mengait
Acuhkan saja
SMS tak bermakna akan selamanya tetap begitu
Berarti untukku, sarkasme untukmu

Selamanya tetap begitu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar