Postingan ini sudah pernah aku publikasikan di laman facebook beberapa bulan yang lalu.
Tapi merasa perlu saja diposting ulang, sebagai reminder, godam pengingat yang semoga ampuh mengembalikan tatanan hati pagi ini.
Ada apa dengan pagi ini?
Ah, soalan biasa
Terdiri dari 5 huruf, 2 vokal 3 konsonan
Tapi efeknya, beuh
Akhwat single paling tangguh pun bisa rontok pertahanannya kalau ditanya tentang ini
Komplikasinya jangan ditanya
Sewot berkepanjangan tak kenal orang
Gagal anggun seketika
Bila bertanya kepadaku dari J sampai H
Pasti lebih banyak melihat senyum
Daripada mendengar kata
Sebab aku hanya ingin taat
Tanpa banyak tanya
Tanpa halus praduga
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Ga takut apa, pernah ga sih questioning that kind of restriction, dengan interaksi yang terbatas seperti itu emang bakalan dapet yang sesuai dengan inginmu?"
"Ah, zaman sekarang mah ga banget kalau interaksinya model begitu. Se-menarik apapun kamu tapi kalau you look weird bagi mereka, yang ada bukannya pada seneng tapi malah pada kabur!"
"It sounds creepy, tau! Kalau aku sih mau ditunggu sampai kapanpun ga bakalan siap kayaknya dengan "sistem" seperti itu. Aku juga punya hak dong buat milah-milih.."
Yang paham benar akan perintahNya dijamin hanya akan senyam-senyum bila mendengar atau sekedar melihat komen macam di atas.
Sepertinya para shalih-shalilah di luar sana sudah tak asing dengan pengkultusan paradigma macam itu, bahwa yang memiliki barrier tinggi dalam berinteraksi tidak akan mendapatkan apa yang mereka idam-idamkan.
Ga akan dapat kesempatan untuk memilih (wrong!), punya masa muda yang penuh dengan limitasi (wrong, wrong!), atau terpaksa taat karena hanya setengah paham akan aturanNya (apalagi ini, wrong besar, deh!)
Pengen ketawa aja rasanya kalau ada yg ngajak berdebat tentang itu, lah pendebatnya ternyata juga tidak terlalu paham. Cuman mendengar desas-desus lantas disebarluaskan. Bahwa Islam itu batasannya besar, merenggut hak-hak tiap umatnya, kita ga akan pernah dapat hak untuk memilih hati, dst dst.
Yes, indeed, kita semua punya andil untuk memilih jalan mana yang kita ambil. Mumpung masih umur begini-toh banyak option yang terbentang luas tepat di depan mata-lantas kemudian memilih untuk belum/tidak siap dengan aturan dari sononya, ya itu terserah kita si empunya diri sebenernya.
Tapi yang paham, tentu karena sudah belajar dan bermodal percaya kepada tiap aturan yang dibuatNya, dijamin tidak akan comes up dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Mereka berbuat, karena mereka tahu
Mereka melakukan, karena mereka paham
Mereka bersabar pun, karena mereka percaya
Bahwa ada hal-hal besar di luar sana yang telah dipersiapkan dengan matang sempurna.
Se-detail apapun rencana manusia tak akan bisa mengalahkan grand design dari-Nya.
Mungkin bila memilih sendiri, hasilnya tak akan sebaik bila Dia yang memilihkan. Mungkin jika berjuang sendiri, manusia yang serba terbatas ini tak akan kuat menopang keluh dan bebannya.
Dia Maha Segala Tahu, dan yang tahu pasti akan lebih memilih untuk mengikuti aturan dari yang lebih tahu.
"Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik.." - QS AnNuur : 26
Jadi, jangan sedih dan jangan berkecil hati, apalagi sampai pasrah menggadaikan idealisme karena omongan-omongan semu yang menjerumuskan kepada jurang kesalahan.
Karena taat adalah pilihan, maka
bersabar lebih tepat dalam masa penantian.
Semoga istiqomah!
aamin..
BalasHapus