Kamis, 03 November 2016

My 24/7 Partner in Crime

Tiga minggu setelah kepulangan kami dari Indonesian International Medical Olympiad (IMO) 2016.

Euforia sabtu malam ketika pengumuman juara dibacakan bahkan belum luntur hingga kini.
Senang, haru, bangga, semua benar-benar campur aduk ; sulit untuk teridentifikasi kadar rasa mana yang lebih dominan saat itu.
Mengingat perjuanganku dan Iky yang harus berkutat dengan banyak buku-hapalan-diskusi kasus-bimbingan dengan dokter spesialis berbulan-bulan sebelum kompetisi ini diadakan.
Tak terhitung berapa kuliah yang kami tinggalkan, pun juga absen saat acara keluarga dengan alasan klasik yang tidak jauh-jauh dari : belajar, diskusi, atau ada deadline untuk menghabiskan buku.


Dibilang selalu lancar berjuang berdua? Tidak juga.
Kami sama-sama tipe orang yang tidak mau kalah, keras kepalaku bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan partnerku sendiri. Satu menjelaskan tentang kasus A, lantas saat yang lain tidak atau kurang setuju dengan literatur yang dijelaskan, langsung babat habis hingga ke akar (Maaf terlalu sering menyela, Ky. Sekarang baru merasa bersalah euy, wkwk)
Kami juga tipe pembelajar yang berbeda. Ketika suasana belajar buatku harus serius, tanpa tawa, tanpa guyonan di tengah pembahasan kasus, Iky entah dengan caranya bisa memodifikasi itu semua dengan distraction yang seringkali kuanggap sebagai pengganggu, haha.
Lantas kemudian lebih banyak saling sikut, berbeda pendapat, dan akhirnya ditutup dengan kata-kata ampuh, "ya sudah deh, Ky".

Namun sungguh, di atas itu semua, salah satu syukurku adalah punya partner yang bisa paham dengan betapa cerewetnya aku dalam mempersiapkan sesuatu hingga ke noktah terkecil dari itu, serta bisa melengkapinya tanpa harus saling abai dengan kebiasaan masing-masing selama kami harus berjuang bersama-sama.
Pun dibalik kekurangan itu, kita sudah bisa membuktikan bahwa kita bisa saling meng-cover dalam tiap kesulitan Ky, bahkan hingga hari-H kompetisi (Thanks sudah menjadi sangat positif ketika lomba, even saat kegalauan SOCA-PH saat itu, Ner hiks).
I couldn't have made this far if I weren't without you!
Thanks a lot, Ky!



H-12 keberangkatan (Dibalik senyuman ada seabrek beban, wkwk)

Pose habis gelap terbitlah terang (cry a river)

Ps. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.
Setelah selesai satu urusan, selesaikanlah lagi urusan yang lain. Semoga berkah yang bisa kita persembahkan untuk almamater. 

Semangat, UNLAM!

Selasa, 06 September 2016

Katanya Tiga Minggu Lagi

Belum pantas untuk bilang lelah,
setidaknya untuk hari ini

Tapi bersedih, sudahkah?
Tanpa ditanya lekas aku mengangguk

Minggu, 03 April 2016

Dat Second Chance

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.
Allah Maha Baik, dikasih lagi kesempatan kedua untuk berjuang pol tahun ini.
Harus ngasih sacrifice lebih, belajar terus tanpa limit, do'a selalu tanpa henti.
Titip 'aamiin' untuk teman-teman yang kebetulan mampir ke tulisan ini :")

Selamat berjuang, FK UNLAM!
#GoGetGold


Kamis, 11 Februari 2016

Dia yang Pasti Akan Datang

Untukmu, yang lebih senang mengungkapkan rasa lewat media sosial
Bersikeras memilah kata agar yang kamu maksud paham tentangmu
Berbalik menyukaimu
Mengagumi penantian yang sedang kamu usahakan

Bukannya aku ingin menggugurkan gugus harapmu
Namun boleh jadi yang kamu inginkan hanya gegabah sesaat saja
Bersabar, lebih baik
Menjaga diri, bertambah mulialah wahai kamu

Berasumsi sungguh hanya akan membuatmu lelah
Menebak-nebak
Mencocokkan tiap kejadian dengan fatamorgana pikiranmu
Belum tentu dia yang ini, dia yang itu, akan mengisi ruang hatimu kelak dalam definisi halal menurutNya

Dia pasti sedang menuju kesini
Mewujudkan kepak sayap do'a yang setia kamu panjatkan untuk kebaikannya
Rabb-mu lebih kuasa untuk menghadiahkanmu skenario indah itu

Percaya saja
Nanti dia pasti akan datang

Sekarang wahai kamu,
cukuplah dalam sujud lisanmu basah oleh cerita tentangnya...

-Bertemankan gerimis rindu, aku mengadu-

Sabtu, 06 Februari 2016

Ragu

"Bagaimana cara membunuh pengharapan yang memilin sempurna justeru pada langit yang mencium ujung pilar pun tidak?"

Dalam sesak harap,
Semarang, 6 Februari 2016

Kamis, 28 Januari 2016

Restunya Demi Melabuh

Selalu senang, merasa tertantang, dan tentu termotivasikan oleh pencapaian mereka yang konsisten melompati pagar batasan nalar.
Pun sekaligus merasa kerdil...

Kata orang bijak, bahkan pendangdut amatiran di sudut gang terpencil saja pasti tahu,
bahwa masa muda itu hanya sekali.

Mumpung masih sendiri,
dan tuntutan obligasi terhadap orang-orang terkasih belum bertambah ruwet.

Tidak ada yang merengek minta buatkan susu formula kepadamu, bukan?
Tidak ada pula yang mengaduh minta uang saku di penghujung bulan.

Adakah alasan lebih baik untuk menolak ribuan kebaikan yang memilin dalam satu kesempatan?

Kesempatan adalah beranimu untuk tinggalkan ragu yang menggantung.
Aku mengaminkan bukan karena tamak akan posisi, apalagi demi pengakuan nan aduhai dari sesamaku.
Namun karena sindiran tanya lebih mengganggu ketimbang lelah.
Katanya, "Bilamana tak sekarang memanfaatkan, apakah di lain masa kau masih diizinkan untuk memilih hidup yang seperti ini?"

Rabu, 27 Januari 2016