Nama : Arel
Usia : 10 tahun
Cita-cita : Pengacara kondang seperti Pak Hotman Paris Hutapea
Kemarin siang, bertepatan dengan hari ke-2 Ied Fitri, aku sekeluarga pergi ke rumah adik abah yang nomor 5. Ternyata keluarga beliau yang dari Jakarta juga pada datang. Walhasil semakin gempita lah itu rumah ; penuh anak-anak, banyak timbunan makanan, penuh anak-anak yang berlarian membawa timbunan makanan.
Sempurna.
Aku berdiri di pojokan saat itu, menyendok es batu untuk ditaruh ke dalam gelas. Suasana rumah masih riuh oleh pekikan para sepupu. Tiba-tiba ada anak kecil yang mendekat. Terus mencolek lengan kananku lantas bilang, "Apa kabar, Kak Tara?"
Aku menoleh kaget ke arah samping kanan, si Arel rupanya!
Dia masih berdiri disitu nunggu aku ngomong sambil nyengir.
"Arel!" Hanya sepatah kata, langsung aku cubit pipi tembemnya, gemas!
"Baik dong, Rel. Arel udah kelas berapa?" Pertanyaan retorik yang biasa ditanyakan ke anak-anak kecil. Haha.
"Naik kelas 6, Kak. Nanti Arel cerita banyak ya!" Lantas lari-lari kecil menyusul sepupu lain yang pada main.
Aku senyum, meneruskan menyendok es ke dalam gelas.
Aku selalu suka Arel. Cerdas, pandai bicara, dan tentunya gendut menggemaskan. Keluarganya berdomisili di Jakarta, dan karena itu kami jarang sekali bertemu. Terakhir kali kalau tidak salah saat liburan semester SMA, sekitar 3 tahun yang lalu. Keluarga Arel jadi tuan rumah saat itu, berbaik hati mengantarkan aku keliling Jakarta ditemani Arel yang sok-sokan jadi tour guide profesional, cadel dan belepotan menjelaskan ini-itu.
Aku senyum lagi, memang selalu menyenangkan berurusan dengan anak kecil yang cerdas.
Sore kemarin, Arel benar-benar bercerita tentang banyak hal. Sekolahnya, teman-temannya, guru-gurunya, bahkan ketidaksukaannya dengan kesemrawutan kota Jakarta. Aku diam saja mendengarkan, hanya sesekali menimpali dan lebih banyak tertawa lebar. Sepupuku yang lain akhirnya ikut mendekat, setelah sebelumnya tenggelam dengan gadgetnya masing-masing *khas orang-orang sekarang, no gadget=no life*
Lantas kemudian Arel berhenti bercerita, rupanya merasa sudah terlalu banyak bicara, haha. Tiba-tiba ada salah seorang sepupu yang nyeletuk, "Arel cita-citanya pengen jadi apa, Rel?"
Aku diam. Semua diam. Mengunci perhatian kami pada Arel yang sekarang sedang sibuk memainkan guling di atas kasur.
"Aku pengen jadi pengacara, Kak! Yang beken kayak Pak Hotman Paris Hutapea!" Arel menjawab dengan lantang, gulingnya ia tepuk dengan keras.
Semua orang, termasuk aku, tertawa terbahak-bahak.
Sebelum itu, aku dan Naufal, salah satu adik sepupu yang juga kuliah di FK melakukan survei iseng ke tiap anak tentang cita-cita mereka di masa depan. Walhasil, hampir semua dari mereka pengen jadi dokter, bahkan sudah ada yang berani menargetkan menjadi seorang dokter spesialis anak. Hanya 1 orang yang berani tampil beda, pengen jadi polisi, katanya.
Dan sekarang, ada 1 anak lagi yang antimainstream dengan cita-citanya.
Arel, tentu saja.
"Kenapa Rel pengen jadi pengacara?" Aku bertanya setelah semua tawa kami mereda.
Arel tertawa kecil lantas menjawab, "Arel kan suka ngomong, Kak. Terus asik aja ngeliat pengacara di TV, kelihatan hebat gitu. Apalagi Pak Hotman Paris, uangnya banyak, Kak! Kemarin aja si bapak itu ngebeliin Raffi Ahmad sama Nagita mobil Lamborghini."
Kami tertawa lagi. Lebih keras. Arel melanjutkan, "Terus aku juga pengen cepat lulus kuliah, Kak. Aku pengen kuliah di UI. Sekolahnya orang-orang pinter. Biar bisa ngebeliin rumah buat mamah papah, terus juga bisa berangkatin mereka haji."
Arel senyum, kami bungkam seketika. Anak kecil pemikirannya sudah sejauh itu, ringisku. Sepupuku yang lain pada tepuk tangan, mengaminkan keinginan Arel secepat kilat. Lantas semua diam. Kembali sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Kalimat sihir Arel hanya bertahan sekian menit rupanya.
Tiba-tiba, Arel pindah duduk ke sebelahku yang sedang bosan memindah-mindah channel televisi.
"Kak Tara, Arel punya pertanyaan paling sulit loh."
Aku tertarik. "Pertanyaan apa, Rel? Kalau kakak bisa jawab, ya." Aku cengengesan, rada takut juga ga bisa jawab pertanyaan anak kecil, tengsin bo!
Dengan wajah lugu ia meneruskan,
"Menurut kakak, Arel yang gantengnya mirip Aliando atau Aliando yang gantengnya mirip Arel?"
Gubrak.
Sekali lagi, memang selalu menyenangkan berurusan dengan anak kecil yang cerdas :)
P.S :
Semoga sukses dengan cita-citanya, Rel! Anak cerdas selalu punya tempat, kok!
Xoxo,
Kak Tara